Dari, Oleh, Untuk, dan Bersama Petani
09 Jun 2010 12:36 WIB
Berbagi ke jejaring:
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • del.icio.us
  • MySpace
  • Technorati
  • TwitThis

FGD PANGAN LOKAL

FGD  Kedaulatan Pangan dilakukan di  2 tempat, masing-masing di  Forum  Perempuan Desa Jombong, Kec. Cepogo Kab.  Boyolali pada tanggal 17 mei 2010 diikuti oleh 30 peserta dari perwakilan anggota kelompok perempuan,  dan Forum Perempuan Desa Peron Kab. Kendal  pada  tanggal 1 Juni 2010 yang diikuti oleh 25 peserta dari perwakilan anggota perempuan, DPP Kawasan, Pemerintah Desa dan juga PPL Kec. Limbangan. Kedua FGD tersebut didampingi oleh Nurul Munawaroh dan Siti Harsun, keduanya Pegiat Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT).
Dalam  diskusi ini peserta diajak untuk melihat kembali tentang pemahaman pangan  dan pola konsumsi pangan, karena pangan sangat mempengaruhi faktor kesehatan dan perilaku  seseorang.
Dengan mencoba membedakan kebiasaan makan yang di konsumsi di tahun 70-an, tahun 90-an dan tahun 2000-an, dari sini sangat  kelihatan perbedaan  pola konsumsi makan, bahan makanan yang di konsumsi dan juga dampak yang dihasilkan untuk kesehatan.
Di Forum Perempuan Desa Jombong saat ini makanan pokok yang dikonsumsi adalah beras, walau sebelumnya banyak yang mengkonsumsi  jagung,  karena merasa susah dalam pengolahannya (penggilingan jagung sangat jauh, harus ke Cepogo (3-4km jarak tempuhnya ). Karena alasan efesien para keluarga  lebih memilih beras (faktor mudah pengolahan) walau sebenarnya para keluarga mengetahui kalau mengkonsumsi beras  itu lebih banyak biayanya.
 Dari diskusi  didapat temuan konsumsi beras perhari  1 kg dengan harga Rp 6.000,  sedangkan jagung perhari  2 kg dengan harga Rp. 6000, bisa dimakan 2 hari, ini akhirnya menjadi pertimbngan yang sangat besar para ibu-ibu untuk kembali berpikir mengkonsumsi nasi jagung, sedangkan hampir bisa dipastikan setiap  keluarga memiliki lumbung pangan di rumahnya masing-masing, khususnya jagung, karena di daerah ini masih sangat banyak menanam jagung walaupun hanya sebagai tanaman penyela di lahannya, akan tetapi jagung ini bisa disimpan sampai panen berikutnya, bahkan bisa untuk mencukupi  kebutuhan mendadak/sosial.
Menariknya dari FGD ini ada tindak lanjut dan sikap yang jelas dari peserta,  apabila di sediakan mesin penggiling jagung para keluarga ini akan kembali  mengkonsumsi nasi jagung karena dianggap lebih ekonomis, dan juga akan memanfaatkan lahan sekitar rumah untuk ditanami tanaman pangan.
FGD pangan lokal di Forum Perempuan Desa Peron ini diawali dengan bersama-sama membedah apa itu pangan, dari sini akhirnya menuju ke kebiasaan /pola konsumsi pangan di  era 70-an, 90-an dan 2000-an, tidak beda seperti yang dilakukan di FGD di Jombong.
Yang menjadi perbedaan sangat menarik dari FGD ini adalah di Kendal  hampir semua masyarakat mengkonsumsi beras, jagung sangat jarang karena di daerah ini jagung tidak bisa berkembang dengan baik, ditanam bisa, tetapi yang menjadi ancaman adalah diserang babi hutan (hama), jadi tidak bisa panen.
Dari FGD di kedua tempat ini, dari peserta sangat merasa senang sekali, karena bukan merupakan hal yang baru dan biasa dilakukan, sehingga semua peserta bisa aktif mengikuti sesi ini dengan baik. Sedikit catatan untuk peserta di Kendal, rasa terbuka menerima hal baru dari orang lain masih kurang, dan dari kedua FGD ini dapat disimpulkan bahwa konsumsi makanan yang alami itu jauh lebih sehat dibandingkan dengan konsumsi makanan pabrikan yang mengandung banyak bahan yang kita sendiri kurang mengerti/kimiawi,  sehingga  berdampak kurang baik bagi kesehatan .

Tuliskan komentar anda!










 

* : harus diisi
Halaman Anggota
Username
Password
Lupa Password

Akses E-Mail @SPPQT.OR.ID
Connect